Wednesday, 24 June 2015

Seperti Inilah Cara Gus Mus Mengajari Kaum Nahdliyyin Menghormati Umat Beragama lain

5 Juni 2015
mustoa
Seperti Inilah Cara Gus Mus Mengajari Kaum Nahdliyyin Menghormati Umat Beragama lain
Suatu hari ada kiyai-kiyai NU kumpul di sebuah pondok pesantren. Saat itu Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri ingin menerangkan tentang awal mula kesalahan beragama.

Beliau melemparkan pertanyaan, “PPP, PDI, dan Golkar itu wasilah atau ghoyyah?” Para kiyai pun serempak menjawab dengan mantap, “Wasilah!”  (Jalan) Ada yang saking mantapnya, jadi malah setengah berteriak. Kiyai sepuh ini (mustofa bisri)  Memberikan Pujian , “Nilai 100 untuk bapak-bapak kiyai.”

“NU, Muhammadiyah, dan semacamnya itu wasilah atau ghoyyah?” Mbah Mustofa Bisri bertanya lagi. Para kiyai kemudian menjawab pelan agak ragu-ragu, “Wasilah…” Beliau hanya tersenyum mendengar nada jawaban para kiyai yang mulai terasa berubah.

Pertanyaan terakhir, Mbah Mustofa Bisri pun bertanya Kembali , “Islam, Katholik, Hindu, dan semacamnya itu wasilah atau ghoyyah (Tujuan) ” ?

Seketika itu pula ruangan menjadi hening. Tidak ada kiyai yang menjawab. Mbah Mustofa sampai mengulangi pertanyaannya tiga kali, para kiyai tersebut tetap hanya diam. Ghoyyah itu artinya tujuan akhir. Wasilah itu artinya sarana menuju.

Kemudian ada kiyai yang balik bertanya, “Kalau pendapat Gus Mus sendiri bagaimana?” Dengan mantap beliau menjawab, “Agama Islam adalah wasilah.” Para kiyai kemudian ribut sendiri, “Lho, bagaimana bisa agama Islam adalah wasilah?!”

Sekali lagi, dengan mantap, Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri menjawab penuh kharisma, “Karena ghoyyah-nya (tujuannya) adalah Allah.” Seketika itu pula, semua kiyai di ruangan tersebut kembali diam semua.

Mbah Mustofa Bisri lantas membuat pengandaian. Kalau Anda ingin ke Jakarta memakai mobil, bus, atau kereta api, tidak akan sampai. Karena Jakarta sedang banjir, maka melalui jalan darat tidak mungkin bisa sampai. Hanya bisa sampai ke Jakarta melalui pesawat terbang. Meski satu-satunya sarana transportasi yang bisa menjangkau Jakarta, pesawat terbang ini tetaplah hanya wasilah (sarana menuju). Maka dari itu, di berbagai kesempatan, Mbah Mustofa Bisri menasehati nahdliyyin untuk selalu menghormati umat beragama lain.

Bagaimanapun juga, umat beragama lain pada dasarnya sama seperti umat muslim, yaitu sedang berusaha menujuNya. Semua pilihan orang lain harus dihargai, seperti diri kita ingin dihargai memilih wasilah agama Islam.

Jadi, awal mula kesalahan beragama adalah menganggap agama Islam seperti partai politik. Ditambah salah menetapkan apa yang menjadi wasilah dan apa yang menjadi ghoyyah dalam agama Islam.

Akhirnya, bisa tumbuh sikap berlebih-lebihan dalam beragama Islam, dan pada akhirnya menjadi sibuk “kampanye” atribut agama Islam yang disertai kebencian terhadap umat beragama lain. Sehingga justru lupa kepada tujuan pokok agama Islam. Mirip prilaku para anggota partai politik masa kini.

Source: www.islamtoleran.com

Monday, 22 June 2015

KESADARAN DIRI

Wahai resi yang berpengetahuan tinggi,
Pada Zaman Kali [Kali Yuga]
yang keras ini,
Usia harapan hidup manusia sangatlah pendek.
Mereka suka bertengkar, malas, tersesat, bernasib sial, 
Dan di atas semua itu,
Mereka selalu resah. 

(Bhagavata Purana, Skanda 1, Bab 1, Sloka 10)

Penjelasan:

Para penyembah Tuhan senantiasa bersemangat untuk memajukan spiritualitas masyarakat umum. Ketika para resi di Naimisaranya menganalisa cara hidup orang-orang di zaman Kali, mereka meramalkan bahwa usia harapan hidup manusia akan menjadi singkat, yang disebabkan bukan oleh kekurangan pangan, melainkan karena pola hidup tidak teratur. Dengan mengelola hidup secara teratur, siapapun akan dapat menjaga kesehatannya. Makan berlebihan, mencari kepuasan indera berlebihan, sangat tergantung pada kemurahan hati orang lain, dan standar hdiup yang artifisial (palsu) menyerap vitalitas energi manusia. Karena itu usia harapan hidup menjadi pendek.


Orang-orang zaman ini juga cenderung sangat malas, tidak hanya dalam hal-hal material, tetapi juga dalam soal kesadaran diri. Kehidupan manusia khususnya dimaksudkan untuk kesadaran diri. Ini berarti, manusia harus berusaha mengetahui siapa dirinya, apa dunia ini, dan apa yang paling benar, atau kebenaran tertinggi. Kehidupan manusia dimaksudkan untuk menemukan cara yang memungkinkan entitas hidup dapat menghentikan segala jenis penderitaan dari usaha keras dalam eksistensi material dan cara untuk kembali kepada Tuhan, rumah abadinya. Tetapi, akibat sistem pendidikan yang buruk, membuat orang tidak berkeinginan untuk kesadaran diri. Bahkan, jika mereka datang untuk itu, malangnya mereka jadi korban guru-guru palsu. 

Pada zaman ini, orang-orang tidak hanya menjadi korban berbagai doktrin dan politik, namun juga menjadi korban teralihkan ke berbagai jenis kesenangan indera. Pikiran mereka selalu resah dan penuh kecemasan akibat berbagai macam kesibukan. Pada zaman ini, banyak manusia bejat telah membuat agamanya sendiri dengan keyakinan tanpa didasari oleh sastera suci manapun. Dan membuka lebar kesempatan bagi orang yang kecanduan kesenangan indera untuk tertarik pada embaga-lembaga semacam itu. Sebagai hasilnya, dengan mengatasnamakan agama, banyak sekali kegiatan berdosa dilakukan oleh orang-orang itu yang kesemuanya tidak menentramkan pikiran dan tidak juga menyehatkan badan. 

Kelompok para siswa (brahmacari) tidak sanggup lagi bertahan lama, dan orang-orang berumah tangga tidak mengikuti aturan-aturan grahsta-asrama. Sebagai akibatnya, orang-orang yang namanya saja vanaprastha dan sanyasi yang berasa dari grahsta-asrama demikian mudah sekali keluar dari aturan yang telah digariskan. Pada jaman Kali, seluruh atmosfer dipenuhi oleh tiadanya sradha (iman). Nilai-nilai spiritual orang tidak bisa dipertahankan lagi. Kini kesenangan duniawi telah menjadi ukuran peradaban. Untuk memelihara peradaban-peradaban duniawi seperti itu, manusia telah membentuk bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok yang rumit, dan di antara kelompok berbeda itu senantiasa muncul peperangan baik secara terbuka maupun perang dingin. Oleh karena itu, sudah menjadi sangat sulit untuk mengangkat standar spiritual akibat terjadinya distorsi nilai-nilai masyarakat manusia saat ini. Para resi Naimisaranya sangat prihatin dan hendak membebaskan semua roh (jiva) yang jatuh sehingga lepas dari kemelekatannya.

(A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada)