Alam semesta guruku, hati nurani agamaku. Hidup ini, sebuah misteri. Bagaimana dia ada, apa yang mengaturnya, kapan akan berakhir, dan setelah itu apa. Siapa diriku, dirimu, mereka, dia, kita semua, juga misteri. Orang yang sudah sadar akan dirinya, melihat Tuhan yang sama, Tuhan Yang Maha Esa di mana-mana, bersemayam di dalam semua mahluk hidup. Semoga semua penghuni jagat raya ini berbahagia.
Showing posts with label Brahman/Tuhan. Show all posts
Showing posts with label Brahman/Tuhan. Show all posts
Monday, 24 June 2013
PERCAKAPAN DENGAN SANG KEMATIAN
Sang Kematian berkata kepada Nachiketas, sang pencari kebenaran
Ada jalan kebahagiaan (Sreya)
Dan ada jalan kesenangan (Preya)
Keduanya menarik jiwa
Yang mengikuti yang pertama
Sampai pada kebaikan
Yang mengkitu kesenangan-kesenangan
Tidak mencapai Akhir
Kedua jalan terletak di depan manusia
Merenungkan mereka, orang bijak memilih jalan kebahagiaan
Orang lain memilih jalan kesenangan
Kamu telah merenungkan, Nachiketas
Tentang kesenangan-kesenangan
Dan kamu telah menolak mereka
Kamu tidak menerima belenggu pemilikan
Dengan mana manusia mengikat diri mereka
Dan di bawah mana mereka tenggelam
Ada jalan kebahagiaan, jalan bijaksana
Ada jalan kesenangan, jalan kebodohan
Mereka terpisah jauh
Dan menuntun ke akhir yang berbeda
Tinggal di tengah kebodohan
Mengira diri mereka bijak dan terpelajar
Orang-orang itu bergerak ke sana ke mari tanpa tujuan
Seperti orang buta menuntun orang buta
Apa yang ada di balik kehidupan
Tidak bersinar kepada mereka yang kekanak-kanakan
Atau mereka yang tidak peduli
Atau diperdaya oleh harta kekayaan
Dan karena itu
Mereka pergi dari satu kematian kepada kematian yang lain
Tidak banyak yang mendengar tentang Dia
Dan dari yang sedikit itu
Tidak banyak yang mencapainya
Mengagumkanlah mereka yang mengajarkan tentang Dia
Dan bijaklah ia yang dapat diajari tentang Dia
Mengagumkanlah ia yang tahu Dia ketika diajari
Dia tak dapat diajarkan oleh orang yang tidak mencapai Dia
Dia tidak dapat dicapai oleh banyak pikiran
Jalan kepadaNya adalah melalui guru yang telah melihat Dia
Dia lebih tinggi dari pikiran tertinggi
Sesungguhnya di atas semua pikiran
Atman, Sang Jiwa dari visi,
Tidak pernah lahir dan tidak pernah mati
Sebelum dia, tidak ada apapun
Dia SATU untuk selamanya
Tidak pernah lahir, dan abadi
Di luar masa lalu dan yang akan datang
Dia tidak mati ketika badan mati
Dia adalah Yang Abadi di antara hal-hal yang mati
---
Sumber: Upanishad Himalaya Jiwa, intisari Upanishad.
Katha Upanisad, Bagian 2
Oleh: Juan Mascaro & Swami Harshananda
Editor: Ngakan Putu Putra
Tuesday, 11 June 2013
BRAHMAN, TUHAN YANG TAK TERBATAS
Tuhan yang ada dan meresap dalam setiap ciptaanNya
Ada di dalam dan di luar ciptaanNya
Tidak terbatas dan melebihi apa yang manusia dapat pikirkan
Tapi dapat disentuh melalui rasa
Merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dicerna
Manusia satu dengan yang lainnya
Dapat memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang berbeda
Untuk mencerna konsep Brahman seperti itu
Namun
Hal tersebut tidak menjadi halangan bagi setiap orang
Untuk "mengakses" - meraih Tuhan
Karena sifat Brahman yang tidak terbatas itu
Mengandung pngertian
Bahwa Tuhan menerima cara-cara yang berbeda
Yang ditempuh ciptaanNya
Untuk datang kepadaNya
Untuk membantu fokus pada dan datang kepada Brahman
Terkadang orang harus dibantu dengan simbolisasi
Dibantu dengan personifikasi
Dibantu dengan kontemplasi
Yang terpenting adalah
Dia menyadari bahwa simbol yang dia gunakan
Bukanlah satu-satunya simbol yang diterima Tuhan
Bahwa jalan yang dia tempuh
Bukanlah satu-satunya jalan yang benar
Bahwa nama yang dipakai
Bukanlah satu-satu nya nama yang benar
Sehingga dia bisa menghormati
Jalan yang dipilih orang lain
Kalau Tuhan hanya dibatasi pada satu hal
Maka dia bukan Brahman
Bukan Jiwa Tertinggi
Bukan Penyebab
Bukan Energy Tertinggi
Ada di dalam dan di luar ciptaanNya
Tidak terbatas dan melebihi apa yang manusia dapat pikirkan
Tapi dapat disentuh melalui rasa
Merupakan sesuatu yang tidak mudah untuk dicerna
Manusia satu dengan yang lainnya
Dapat memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang berbeda
Untuk mencerna konsep Brahman seperti itu
Namun
Hal tersebut tidak menjadi halangan bagi setiap orang
Untuk "mengakses" - meraih Tuhan
Karena sifat Brahman yang tidak terbatas itu
Mengandung pngertian
Bahwa Tuhan menerima cara-cara yang berbeda
Yang ditempuh ciptaanNya
Untuk datang kepadaNya
Untuk membantu fokus pada dan datang kepada Brahman
Terkadang orang harus dibantu dengan simbolisasi
Dibantu dengan personifikasi
Dibantu dengan kontemplasi
Yang terpenting adalah
Dia menyadari bahwa simbol yang dia gunakan
Bukanlah satu-satunya simbol yang diterima Tuhan
Bahwa jalan yang dia tempuh
Bukanlah satu-satunya jalan yang benar
Bahwa nama yang dipakai
Bukanlah satu-satu nya nama yang benar
Sehingga dia bisa menghormati
Jalan yang dipilih orang lain
Kalau Tuhan hanya dibatasi pada satu hal
Maka dia bukan Brahman
Bukan Jiwa Tertinggi
Bukan Penyebab
Bukan Energy Tertinggi
Saturday, 8 June 2013
DALAM KEHIDUPAN SETELAH KEHIDUPAN
Jiwa itu tidak laki-laki, tidak perempuan
Tidak pula bukan laki-laki dan bukan perempuanKetika jiwa mengambil bentuk satu badan
Dengan badan yang sama jiwa itu terikat
Jiwa lahir dan berkembang di dalam satu badan
Dengan mimpi-mimpi dan keinginan-keinginan dan makanan kehidupan
Dan kemudian dia lahir dalam badan-badan baru
Sesuai dengan karma-karmanya sebelumnya

Kualitas dari jiwa menentukan badannya yang akan datang
Bersifat bumi atau bersifat udara
Berat atau ringan
Pikiran-pikiran dan tindakan-tindakannya dapat membawanya
Kepada kebebasan
Dalam kehidupan setelah kehidupan
Tapi ada Tuhan dari bentuk-bentuk tak terbatas
Ketika seorang manusia mengetahui Tuhan
Yang tersembunyi dalam hati,
Seperti krim yang tersembunyi dalam susu
Dia bebas dari semua ikatanDia adalah pencipta segalanya
Senantiasa hidup dalam rahasia ciptaannya
Dia di luar awal dan akhir
Dan dalam kemuliaannya segala hal berada.
---
Sumber: Upanishad Himalaya Jiwa, intisari Upanishad.
Katha Upanisad, Bagian 2
Oleh: Juan Mascaro & Swami Harshananda
Editor: Ngakan Putu Putra
Friday, 7 June 2013
SEPERTI KUSIR BURUK DENGAN KUDA-KUDA LIAR
Ketahui Atman sebagai Tuan (Pemilik) kereta
Dan tubuh sebagai kereta itu sendiri
Ketahui bahwa akal adalah kusir
Dan citta (intelegensi) sesungguhnya kendali
Kuda-kuda, kata mereka, adalah indria
Dan jalan mereka adalah obyek dari indria
Ketika jiwa menjadi satu dengan citta dan indria
Dia disebut "seorang yang memiliki kebahagiaan dan penderitaan"
Dia yang tidak mempunyai pemahaman yang benar
Dan cittanya tidak pernah teguh
Bukanlah penguasa bagi hidupnyaSeperti kusir buruk dengan kuda-kuda liar
Tapi dia yang mempunyai pemahaman yang benar
Dan cittanya selalu teguh
Adalah penguasa bagi hidupnya
Seperti kusir baik dengan kuda-kuda yang terlatih baik
Dia yang tidak mempunyai pemahaman yang benar
Ceroboh dan tidak pernah murni
Tidak mencapai Akhir perjalanan
Tapi mengembara dari kematian ke kematian (yang lain)
Dari kelahiran ke kelahiran (kembali)
Tetapi dia yang mempunyai pengertian
Hati-hati dan selalu murni
Mencapai Akhir perjalanan
Dari mana dia tidak kembali

Orang yang keretanya dikemudikan oleh akal
Yang mengamati dan memegang kendali cittanya
Mencapai Akhir perjalanan
Jiwa tertinggi yang abadi
Di balik indria adalah obyek-obyek mereka
Dan dibalik obyek-obyek adalah citta
Di balik citta adalah akal murni
Di balik akal adalah Jiwa di dalam manusia
Di balik jiwa manusia adalah jiwa semesta
Dan dibaliknya adalah Purusha, Sang Jiwa Tertinggi
Tidak ada apapun di balik Purusha
Dia adalah akhir dari perjalanan itu
-----
Sumber: Upanishad Himalaya Jiwa, intisari Upanishad.
Katha Upanisad, Bagian 3
Oleh: Juan Mascaro & Swami Harshananda
Editor: Ngakan Putu Putra
Monday, 3 June 2013
YA YANG BERARTI TIDAK YANG BERARTI YA
Siapa yang mengirim citta* mengembara jauh?
Siapa yang mendorong hidup memulai ziarahnya?
Siapa yang mendesak kita mengucapkan kata-kata ini?
Siapakah jiwa di balik mata dan telinga?
Ia adalah telinga dari telinga, mata dari mata,
Ia adalah kata dari kata, citta dari citta,
Ia adalah hidup dari hidup.
Mereka yang mengikuti kebijaksanaan melewati dunia ini,
Dan meninggalkannya,
Menjadi abadi.
Di sana mata tidak pergi, tidak kata-kata, tidak citta,
Kita tidak tahu,
Kita tidak mengerti,
Bagaimana ia dapat dijelaskan:
Dia di atas yang diketahui,
Dia di atas yang tidak diketahui.
Apa yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata,
Tetapi yang dengan itu, kata-kata dapat diucapkan?
Dia adalah Barhman, Sang Jiwa,
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat dipikirkan dengan citta,
Tetapi yang dengan itu, citta dapat berpikir?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa,
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat dilihat dengan mata,
Tetapi yang dengan itu, mata dapat melihat?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa,
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat didengar dengan telinga,
Tetapi yang dengan itu, telinga dapat mendengar?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa,
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat dihirup dengan nafas,
Tetapi yang dengan itu, nafas dapat dihirup?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Dia datang kepada pikiran mereka yang mengetahui dia di balik pikiran,
Tidak kepada mereka yang mengkhayalkan dia dapat dicapai oleh pikiran.
Dia tidak dikenal oleh yang terpelajar
Dia dikenal oleh yang sederhana.
Orang bijaksana yang telah melihat dia di dalam semua ada,
Ketika meninggalkan dunia ini,
Mencapai keabadian.
Jika kita mengatakan bahwa kita melihat sebuah benda,
Maka terbentuklah dualitas: obyek yang dilihat dan subyek yang melihatnya.
Jika kita melihat sesuatu,
Maka sebenarnya yang melihat itu adalah jiwa kita
Atma kita
Kemudian bagaimana kita bisa melihat diri kita?
Bagaimana kita bisa mengetahui diri kita?
Apa yang ada di dalan diri kita dan terpisah dari diri yang sejati?
Apa yang berbeda dari Atma yang bisa mengetahui?
Tidak ada.
Siapa yang mengatakan ia mengetahui Atma,
Ia tidak mengetahuinya.
Ia yang berada dalam tahap tidak mengetahui,
Mengetahuinya.
Ia yang melihat,
Tidaklah melihat,
Ia yang tidak melihat,
Dapat melihatnya.
(Kena Upanisad)
---------
Catatan:
Siapa yang mendorong hidup memulai ziarahnya?
Siapakah jiwa di balik mata dan telinga?
Ia adalah telinga dari telinga, mata dari mata,
Ia adalah kata dari kata, citta dari citta,
Ia adalah hidup dari hidup.
Mereka yang mengikuti kebijaksanaan melewati dunia ini,
Dan meninggalkannya,
Menjadi abadi.
Di sana mata tidak pergi, tidak kata-kata, tidak citta,
Kita tidak tahu,
Kita tidak mengerti,
Bagaimana ia dapat dijelaskan:
Dia di atas yang diketahui,
Dia di atas yang tidak diketahui.
Apa yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata,
Tetapi yang dengan itu, kata-kata dapat diucapkan?
Dia adalah Barhman, Sang Jiwa,
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat dipikirkan dengan citta,
Tetapi yang dengan itu, citta dapat berpikir?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa,
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat dilihat dengan mata,
Tetapi yang dengan itu, mata dapat melihat?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa,
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat didengar dengan telinga,
Tetapi yang dengan itu, telinga dapat mendengar?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa,Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Apa yang tidak dapat dihirup dengan nafas,
Tetapi yang dengan itu, nafas dapat dihirup?
Dia adalah Brahman, Sang Jiwa
Dan bukan apa yang orang-orang puja di sini.
Dia datang kepada pikiran mereka yang mengetahui dia di balik pikiran,
Tidak kepada mereka yang mengkhayalkan dia dapat dicapai oleh pikiran.
Dia tidak dikenal oleh yang terpelajar
Dia dikenal oleh yang sederhana.
Orang bijaksana yang telah melihat dia di dalam semua ada,
Ketika meninggalkan dunia ini,
Mencapai keabadian.
Jika kita mengatakan bahwa kita melihat sebuah benda,
Maka terbentuklah dualitas: obyek yang dilihat dan subyek yang melihatnya.
Jika kita melihat sesuatu,
Maka sebenarnya yang melihat itu adalah jiwa kita
Atma kita
Kemudian bagaimana kita bisa melihat diri kita?
Bagaimana kita bisa mengetahui diri kita?
Apa yang ada di dalan diri kita dan terpisah dari diri yang sejati?
Apa yang berbeda dari Atma yang bisa mengetahui?
Tidak ada.
Siapa yang mengatakan ia mengetahui Atma,
Ia tidak mengetahuinya.
Ia yang berada dalam tahap tidak mengetahui,
Mengetahuinya.
Ia yang melihat,Tidaklah melihat,
Ia yang tidak melihat,
Dapat melihatnya.
(Kena Upanisad)
---------
Catatan:
*chitta = benak, kesadaran. Pada level pribadi, chitta adalah tempat di mana impresi dan oengalaman dicatat.Tempat kedudukan dari kesadaran, sub-kesadaran dan superkesadaran, dan tiga lapis kemampuan mental, yang disebut antahkarana, terdiri dari buddhi, manas dan ahamkara.
Sumber: Upanisad Himalaya Jiwa, intisari upanisad, oleh Juan Mascaro & Swami Harshanada, Editor: Ngakan Putu Putra
Sunday, 2 June 2013
N A M A S T E



Namaste merupakan salam yang diucapkan saat seseorang
bertemu dengan orang lain. Saat mengucapkan Namaste, orang mengambil sikap
Anjali, yaitu posisi kedua telapak tangan dicakupkan rapat didepan dada, jari
tangan mengarah ke atas, boleh juga dibarengi dengan sedikit membungkukkan
badan, lalu mengucapkan kata “Namaste”. Sikap salam yang juga banyak dipakai
pada umum nya adalah dengan berjabat tangan, atau dengan cium pipi kanan dan kiri. Bedanya, dengan sikap anjali dala salam Namaste, kedua belah pihak tidak
bersentuhan secara fisik saat mengucapkan salam.


Pada saat kita mengucapkan salam Namaste, kita menghormati
dengan kasih dan damai, Jiwa, roh, atman yang ada di dalam diri orang yang kita
temui. Jiwa, roh atau atman ini merupakan bagian dari Tuhan – Barhman, energi suci yang bersemayan di dalam diri setiap
manusia, dan di dalam setiap mahluk hidup ciptaanNya. Brahman dan Atman, sama
dan berbeda pada saat yang sama. Brahman ada di luar dan di dalam setiap
ciptaannya. Kita semua berasal dari energi yang sama. Dalam diri kita, ada energi
suci yang sama yang berasal dari sumber yang sama.
Namaste berasal dari bahasa Sanskerta. Yang terdiri dari dua
kata, yaitu “Namah” dan “te”. Namah artinya membungkuk, merendah, salam hormat,
menghargai, dengan tulus dan mengalahkan ego, ataupun rasa superiority. Sedangkan “te” artinya “kepada anda”.
Sikap
anjali, juga bisa dilakukan tanpa pengucapan kata Namaste, dan tetap memberi arti
yang sama.
Thursday, 30 May 2013
DOA (MANTRAM) AGAR HIDUP ABADI (?)
Mantram dari Upanishad (Brhadaranyaka Upanishad — I.iii.28) ini banyak dipakai, dan diucapkan (chanted) berulang-ulang. Sebagaimana halnya secara umum, mengartikan suatu mantram, diperlukan kedalaman spiritual bagi yang membaca ataupun mengartikannya. Kalau tidak, kita akan cenderung hanya mendapatkan kulitnya saja, yang tidak jarang berbeda dengan isinya, alias keliru (bentuk halus dari salah) mengartikannya. Apalagi mengartikan suatu mantram yang melibatkan penterjemahan dari bahasa aslinya ke bahasa kita sendiri terlebih dahulu. Akan lebih sulit mendapatkan terjemahan yang akurat. Mantarm berikut ini sangat pendek, hanya terdiri dari 3 bait.
Om Asato Ma Sad-Gamaya
Ya Brahman, bimbinglah aku dari yang tidak benar menuju yang benar,
Tamaso Ma Jyotir-Gamaya
Bimbinglah aku dari kegelapan menuju cahaya yang terang
Mrtyor-Ma Amrtam Gamaya
Mrtyor-Ma Amrtam Gamaya
Bimbinglah aku dari kematian menuju kehidupan abadi
Kalau kita langsung loncat ke bait terakhir, terjemahan yang
sering dipakai adalah memohon bimbingan dari Tuhan / Barhman dari kematian
menuju kehidupan abadi. Bilamana diartikan secara apa adanya, seolah-olah
dengan doa ini, kita mengharapkan hidup yang abadi, dalam artian hidup di alam
materi ini sampai akhir jaman. Yang mana hal tersebut tidak mungkin terjadi dan
bertentangan dengan Dharma itu sendiri.
Namun, tidak mungkin rasanya ada mantram yang keliru. Maka
kemungkinannya adalah, kita
mengartikannya tidak tepat.
Kalau kita lihat bait pertama, - ASATo maa sad-gamaya -, mantram ini berisi permohonan bimbingan untuk
meningkatkan spiritualitas. Memohon atau punya keinginan agar tercerahkan,
tercerahkan dari hal yang tidak benar, menuju hal yang benar, dari hal yang
tidak nyata (semu) menuju hal yang nyata. Yang benar (truth), yang nyata (reality) dan
yang ada (existence), menurut ajaran Dharma, adalah hanya satu, yaitu yang kita
sebut Brahman. Dan dalam kaitan hubungan Brahman dan Atman, maka Atman juga
memiliki ketiga sifat tersebut. Yang artinya, diri kita yang sejati, yang ada,
nyata dan benar adalah sang Atman.
Jagat raya ini beserta isinya, selalu mengalami perubahan
dan akan terus berubah, terus bergerak. Siklus terus berjalan,
lahir-tumbuh-menua-mati (ditinggalkan)-lahir (yang baru dan lebih baik). Tidak hanya terbatas pada hal-hal fisik,
emosi manusia pun berubah-ubah, dari rasa bahagia, sedih dan marah. Menurut
ajaran Dharma, kita tidak bisa menyebut dunia seperti tersebut sebagai suatu
hal yang ultimately real, not
ultimately true either. Ultimately, dia tidak exist. Dia Nampak real, dst, tapi
sebenarnya tidak. Hal seperti ini disebut “ASAT”. Jadi yang dituju adalah berubah dari ASAT
menjadi SAT.
Orang yang berdoa memakai mantram
ini, secara teori semestinya dia sudah ingin mengurangi kemelekatan terhadap
hal yang semu ini. Karena yang semu ini
sangat gampang sekali, bahkan secara sekejap, bisa hilang, bagaikan istana pasir
disapu ombak di pantai. Kemelakatan terhadap ASAT selalu berakhir dengan
kepedihan. Sebaliknya, SAT adalah diri
kita yang sejati. Sat adalah kebahagiaan
rohani, kebahagiaan spiritual, yang pernah ada – yang saat ini ada – dan yang akan
selalu ada, dan tidak akan tersapu oleh gelombang waktu. Sebenarnya SAT ada
dalam setiap obyek ASAT. Tantangannya adalah, ujiannya adalah, kemampuan untuk
mengupas (memisahkan antara) kulit dan isinya. Berbicara mengenai ultimate
reality, kenyataan yang sejati, kita sebenarnya berbicara mengenai
SAT-CIT-ANANDA.
Kalau kita lihat bait kedua – tamaso ma jyotir gamaya –
artinya “bimbinglah aku dari kegelapan menuju terang". Dalam Dharma, yang dimaksudkan sebagai gelap
dan terang adalah “kebodohan” dan “pengetahuan”. Seseorang dalam kegelapan maksudnya, yang
bersangkutan tidak mengetahui, ataupun mengabaikan, ataupun masih bingung
mengenai kebenaran sejati. Obat dari kegelapan adalah cahaya terang, dan obat
dari kebodohan adalah pengetahuan. Pengetahuan
dalam hal ini adalah pengetahuan mengenai kebenaran sejati.
Bait ketiga – mrtyor mamrtam gamaya – artinya “bimbinglah
aku dari kematian ke keabadian”. Kalau
kita lihat dua bait pertama di atas, semuanya memohon bimbingan pencerahan
spiritual, maka bait ketiga ini pun masih berupa permohonan bimbingan
pencerahan spiritual. Bukan memohon agar hidup abadi di dunia materi ini. Dalam
ajaran Dharma, yang tak terlahirkan dan tak mati, adalah Atman, diri kita yang
sejati. Sedangkan badan kasar ini, badan fisik ini, akan mati pada waktunya,
dan terurai kembali ke unsur-unsur pembentuk alam. Sedangkan Atman, sang roh,
tidak pernah mati. Maka yang abadi adalah Atman. Arti dari mantram bait ketiga
ini, adalah memohon bimbingan agar kita sadar bahwa badan materi ini adalah
sementara. Dikaitkan dengan bait pertama, bahwa kita hendaknya tidak memiliki
kemelekatan kepada yang bersifat sementara, bersifat semu. Kita harus menemukan
diri kita yang sejati, yang abadi, yang tidak berawal tidak berakhir.
Dengan demikian, ketiga bait mantram ini, yang mencerminkan
perjalanan (journey) seseorang,
bukanlah perjalanan fisik dari satu tempat menuju ke tempat yang lain. Tapi
perjalanan rohani, perjalanan di dalam diri, dari kegelapan menuju cahaya terang, yang semuanya ada dalam
diri kita masing-masing.
SAT CIT ANANDA
The Moola Mantra
Om Sat-Chit-Ananda Parabrahma
Purushothama Paramatma
Sri Bhagavathi Sametha
Sri Bhagavathe Namaha
Whenever you chant this Vedic Sanskrit Mantra, even without knowing the meaning of it, that itself carries power. But when you know the meaning and chant it with feeling in your heart, then the energy will flow a million times more powerfully. It is therefore important to know the meaning of the Moola Mantra when you use it.
This Mantra is like calling a name. Just like when you call a person he comes and makes you feel his presence, in the same manner when you chant this mantra the Supreme Energy manifests everywhere around you. As the Universe is omnipresent, this Supreme Energy can manifest anywhere and anytime. It is also very important to know that invocation of the Moola Mantra with deep humility, respect and with great necessity makes the Divine Presence stronger.
Om Sat-Chit-Ananda Parabrahma
Purushothama Paramatma
Sri Bhagavathi Sametha
Sri Bhagavathe Namaha
Whenever you chant this Vedic Sanskrit Mantra, even without knowing the meaning of it, that itself carries power. But when you know the meaning and chant it with feeling in your heart, then the energy will flow a million times more powerfully. It is therefore important to know the meaning of the Moola Mantra when you use it.
This Mantra is like calling a name. Just like when you call a person he comes and makes you feel his presence, in the same manner when you chant this mantra the Supreme Energy manifests everywhere around you. As the Universe is omnipresent, this Supreme Energy can manifest anywhere and anytime. It is also very important to know that invocation of the Moola Mantra with deep humility, respect and with great necessity makes the Divine Presence stronger.
OM has 100 different meanings. It is said, in the beginning was the Supreme word and the word created every thing. That word is OM. If you are meditating in silence deeply, you can hear the sound OM within. The whole of creation emerged from the sound OM. It is the primordial sound or the Universal sound by which the whole universe vibrates. OM also means inviting the higher energy. This divine sound has the power to create, sustain and destroy, giving life and movement to all that exist.
SAT
SAT means all penetrating existence that is formless, shapeless, omnipresent, attribute less, and quality less aspect of the Universe. It is the Unmanifest. It is experienced as emptiness of the Universe. We could say it is the body of the Universe that is static. Everything that has a form and that can be sensed, evolved out of this Un manifest. It is so subtle that it is beyond all perceptions. It can only be seen when it has become gross and has taken form. We are in the Universe and the Universe is in us. We are the effect and Universe is the cause and the cause manifests itself as the effect.
CHIT
CHIT is the Pure Consciousness of the Universe that is infinite, omni-present manifesting power of the Universe. Out of this is evolved everything that we call Dynamic energy or force. It can manifest in any form or shape. It is the consciousness manifesting as motion, as gravitation, as magnetism, etc. It is also manifesting as the actions of the body, as thought force. It is the Supreme Spirit.
ANANDA
ANANDA means bliss, love and friendship nature of the Universe. When you experience either the Supreme Energy in this Creation (SAT) and become one with the Existence or experience the aspect of Pure Consciousness (CHIT), you enter into a state of Divine Bliss and eternal happiness (ANANDA). This is the primordial characteristic of the Universe, which is the greatest and most profound state of ecstasy that you can ever experience when you relate with your higher Consciousness.
PARABRAHMA
PARABRAHMA is the Supreme Being in his Absolute aspect; one who is beyond space and time. It is the essence of the Universe that is with form and without form. It is the Supreme creator.
PURUSHOTHAMA
PURUSHOTHAMA has different meanings. Purusha means soul and Uthama means the supreme; the Supreme spirit. It also means the supreme energy of force guiding us from the highest world. Purusha also means Man, and PURUSHOTHAMA is the energy that incarnates as an Avatar to help and guide Mankind and relate closely to the beloved Creation.
PARAMATMA
PARAMATMA means the supreme inner energy that is immanent in every creature and in all beings, living and non-living. It's the indweller or the Antaryamin who resides formless or in any form desired. It's the force that can come to you whenever you want and wherever you want to guide and help you.
SRI BHAGAVATHI
SRI BHAGAVATHI is the Feminine aspect, which is characterized as the Supreme Intelligence in action, the Power (The Shakti). It is referred to the Mother Earth (Divine Mother) aspect of the creation.
SAMETHA
SAMETHA means together or in communion with.
SRI BHAGAVATHE
SRI BHAGAVTHE is the Masculine aspect of the Creation, which is unchangeable and permanent.
NAMAHA
NAMAHA is salutations or prostrations to the Universe that is OM and also has the qualities of SAT-CHIT-ANANDA, that is omnipresent, unchangeable and changeable at the same time, the supreme spirit in a human form and formless, the indweller that can guide and help in the feminine and masculine forms with the supreme intelligence. I seek your presence and guidance all the time.
(Source: The Seattle Oneness Community)
Thursday, 16 May 2013
UPANISAD
Ia menyampaikan kebenaran, kebaikan dan keindahanIa adalah Satwam - Siwam - Sundaram
Ia adalah campuran doa, sembahyang, berita,
Analogi, parabel, kisah sejarah, perintah hukum dan dialog
Bahasa dialog kerohanian yang lembut
Yang bermakna dalam
Untuk membangun kesadaran
Melalui pencapaian pengetahuan dan pengalaman
Dialog antara murid dan guru
Murid-murid bertanya
Para pencari Tuhan didorong untuk bertanya
Guru menjawab
Dialog yang bersih dari kata-kata keras yang bersifat ancaman
Bersih dari kata-kata keras yang bersifat kutukan atau caci maki
Bersih dari kata-kata keras yang bersifat permusuhan
Kecuali terhadap musuh dalam diri
Manusia bertanya
Tuhan menjawab
Tetapi kita tidak memahami jawabanNya
Karena mereka ada di dalam kedalaman jiwa kita
Dan akan tetap berada di sana
Sampai kita mati
Jawaban sesungguhnya
Ada di dalam diri kita
Tuesday, 7 May 2013
MUSUH ADA DI DALAM DIRI
Mencari Tuhan
Mencari cahaya terang
Nyarinya ke dalam
Ke dalam diri
Nyarinya ke dalam
Ke dalam diri
Mencari musuh
Mencari kegelapan
Mencarinya juga ke dalam diri
Musuh ada di dalam diri
Bukan di luar diri
Bukan di luar diri
Jika tidak ada cahaya terang dalam diri
Maka kegelapan lah yang ada
Maka kegelapan lah yang ada
Persilahkan cahaya terang masuk
Ke dalam diri
Ke dalam diri
Kuasai dan kalahkan musuh
Yang ada dalam diri
Yang ada dalam diri
Buatlah agar cahaya terang, betah berstana
Dalam diri
Monday, 6 May 2013
PUNARBAWA
Ku kumpulkan dan kurangkai potret dirimu
Sekeping demi sekeping
Aku melihat diriku dalam dirimu
Dirinya dalam diriku
Diriku dalam diri mereka
Kenapa baru ku sadari
Betapa besar kasihmu padaku
Meski hanya dalam angan dan bayang
Kucoba hadirkan engkau
Di hadapanku dalam busana suci mu
Untuk kudekap kaki jemarimu
Memohon ampunan dan bimbinganmu
Rasakan sejuk usapan tangamnu
Di bahuku
Adakah kita energi yang sama,
Lahir di bumi dalam waktu dan raga yang berbeda?
Om swargantu moksantu murcantu pitara dewam
Om Nama swadah
- Tabanan, 7-7-2011, Umanis Galungan -
Sekeping demi sekeping
Aku melihat diriku dalam dirimu
Dirinya dalam diriku
Diriku dalam diri mereka
Kenapa baru ku sadari
Betapa besar kasihmu padaku
Meski hanya dalam angan dan bayang
Kucoba hadirkan engkau
Di hadapanku dalam busana suci mu
Untuk kudekap kaki jemarimu
Memohon ampunan dan bimbinganmu
Rasakan sejuk usapan tangamnu
Di bahuku
Adakah kita energi yang sama,
Lahir di bumi dalam waktu dan raga yang berbeda?
Om swargantu moksantu murcantu pitara dewam
Om Nama swadah
- Tabanan, 7-7-2011, Umanis Galungan -
Subscribe to:
Posts (Atom)











